Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan Mendesak Diterapkan

Senin, 20 September 2010 08:30:00 - oleh : admin

TEKNOLOGI PENANGKAPAN IKAN RAMAH LINGKUNGAN MENDESAK DITERAPKAN

Bogor, 18/9 (ANTARA)

Penggunaan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan merupakan suatu keharusan dan perlu segera diterapkan untuk menjamin kelestarian sumber daya ikan dan lingkungan perairan. Hal itu dikemukakan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir Ari Purbayanto MSc. dalam sidang terbuka orasi ilmiah guru besar IPB di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Sabtu.

Ia berpendapat bahwa saat ini sudah saatnya Pemerintah Indonesia memihak pada kepentingan berkelanjutan dalam pembangunan perikanan, yakni kebijakan yang "pro-green" atau "pro-sustainability. "Kebijakan pemerintah yang telah dicanangkan, yaitu yang 'pro-poor, pro-job dan pro-growth' lebih berorientasi pada peningkatan produksi yang bisa berdampak terhadap eksploitasi sumber daya ikan secara berlebihan," kata Ari.

Untuk mencegah terjadinya tragedi kehancuran perikanan tangkap di wilayah perairan pantai di Indonesia, diperlukan suatu peta jalan (road map) penelitian dan pengembangan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang dilaksanakan secara kolaboratif. Ia menjelaskan, teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan adalah teknologi penangkapan yang menangkap ikan secara selektif dengan dampak minimum terhadap kelangsungan hidup ikan-ikan yang lolos dari proses penangkapan dan terhadap lingkungan perairan.

Secara umum ada 14 kriteria teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan. Di antaranya adalah tidak menimbulkan polusi, hemat energi, tidak merusak lingkungan perairan dan selektif, artinya ikan yang tertangkap seragam serta sesuai ukuran yang ditetapkan. Hal tersebut juga terkait dengan teknologi alat tangkap yang perlu digunakan oleh nelayan dan pengusaha perikanan agar kegiatan mereka tidak berdampak negatif bagi lingkungan. Di antaranya dengan perbaikan trammel net atau jaring tiga lapis yang biasa dipakai untuk menangkap udang dan perbaikan daya selektivitas bubu. Dengan perbaikan pada alat tangkap itu maka ikan-ikan juvenil atau ikan-ikan kecil dapat lolos dari jaring nelayan.

Ari Purbayanto yang meraih gelar doktor dari Tokyo University of Fisheries pada 2000 itu juga memperkenalkan inovasi mesin "suritech" untuk pemanfaatan hasil tangkapan sampingan (HTS) pada kapal pukat udang. HTS pukat udang diantaranya berupa ikan yang bukan sasaran tangkapan itu umumnya sebagian besar tidak dimanfaatkan dan dibuang kembali. Pembuangan tersebut tentunya merupakan tingkatan pemborosan sumber daya dan mencemari perairan laut. "Dengan penggunaan mesin suritech di atas kapal, maka daging dan tulang ikan HTS dapat dipisahkan sehingga menjadi produk berupa surimi atau daging ikan lumat yang bermutu tinggi." Ari juga menambahkan bahwa untuk mendorong penerapan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan ini diperlukan aturan-aturan pendukung dari pemerintah, termasuk aturan pelarangan teknologi penangkapan ikan yang bersifat destruktif. Teguh Handoko

 

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya