Meski Ketat Tetap Menggeliat
01 May 2009 Meski Ketat Tetap Menggeliat Harga BBM turun, jumlah kapal tuna beroperasi meningkat, ekspor naik. Meski demikian relokasi basis tangkap dari Samudera Hindia ke Pasifik patut dipertimbangkan Ratusan armada kapal tuna yang sempat lama tambat di Pelabuhan Perikanan Samudera Benoa Bali, kini sudah melaut lagi. Jumlah kapal yang beroperasi pun terus bertambah. Tercatat kapal tuna yang menjadi anggota Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI) tidak kurang dari 860 unit (mayoritas kapal di atas 100 GT/Gross Tonase). Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang 2006 yang hanya sekitar 400 unit. Sebanyak 52 perusahaan penangkapan tuna yang tergabung dalam ATLI berlomba meningkatkan hasil tangkapan dengan mengoperasikan kembali kapal-kapal tuna yang sempat lama nganggur. Jenis alat tangkap yang digunakan longline, gill net, dan purse seine. Alhasil, angka ekspor di 2007 pun meningkat cukup signifikan. Sekretaris Jenderal (Sekjen) ATLI, Dwi Agus Siswa Putra menyampaikan, sejak 2007 setiap bulan ekspor tuna oleh ATLI meningkat. “Rata-rata bulanan ekspor tuna segar yang sebelumnya 200 ton, kini menjadi 600 ton,” ujar Dwi melalui sambungan telepon. Fakta positif ini utamanya dipengaruhi turunnya harga BBM yang memungkinkan armada kapal tuna bergeliat lagi. Artinya biaya operasional yang 60% berasal dari BBM bisa direduksi. Disebut Dwi, biaya operasional per trip untuk kapal tuna di atas 100 GT dengan 150 - 200 ton solar, menelan dana Rp 700 - Rp 800 juta. Lama trip operasi penangkapan ikan untuk kapal tuna di atas 100 GT antara 3 - 5 bulan. Sedangkan kapal di bawah 100 GT 1 - 2 bulan. Lebih lanjut Dwi menambahkan, setiap kapal tuna buatan dalam negeri (umumnya kapal kayu) mendapat subsidi BBM sebesar 25 kiloliter per bulan dan bisa diambil sekaligus 3 bulan. Sementara kapal tuna buatan asing, meski sudah berbendera Indonesia tidak mendapatkan subsidi BBM. Dwi mengeluhkan soal ini sebagai diskriminasi. Ia beralasan, untuk kapal besi dengan ukuran besar, membeli kapal eks-asing lebih murah ketimbang membuat di galangan nasional. Sumber Daya Tuna Menipis Menjadi persoalan besar adalah terkait daerah penangkapan. Kawasan tangkap kapal-kapal tuna ATLI selama ini di perairan Samudera Hindia. Faktanya, areal penangkapan ini makin menjauh dari garis pantai. Ini tak lepas adanya penurunan potensi sumber daya tuna dunia. Gejala tersebut terbaca dari hook rate (hasil tangkapan ikan per 100 mata pancing) yang merosot tiap tahunnya. Data ATLI menunjukkan hook rate tuna fluktuatif setiap tahunnya. Pada 2006 nilainya 0,4, lalu 2007 menjadi 0,7 dan pada 2008 menurun lagi menjadi 0,5. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh karakteristik tuna yang bermigrasi antar samudera, juga dipengaruhi suhu dan cuaca. Tapi secara umum tren angka hook rate menurun. Menurut Guru Besar Teknologi Penangkapan Ikan Institut Pertanian Bogor, Prof Ari Purbayanto, para pengusaha tuna perlu menyadari bahwa ke depan tantangan usaha penangkan tuna kian besar. “Mulai dari hook rate yang terus menurun sampai pembatasan jumlah penangkapan oleh berbagai organisasi tuna dunia,” ujar Ari. Kedepan, lanjut Ari, operasi penangkapan tuna harus terdaftar pada sejumlah organisasi tuna internasional yang memegang kewenangan pemanfaatan tuna di wilayah perairan tertentu. “Jika kita tidak mengikuti aturan dunia itu, maka produk tuna Indonesia tidak bisa diekspor,” ujar Ari . Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Mei 2009


Login
Contact Us
Video Gallery



